SITUBONDO — Semangat kebangsaan dan persatuan mewarnai kegiatan Diskusi Panel Kebangsaan bertema “Tak Atokaran Membangun Situbondo Menuju Indonesia Emas” yang digelar di Paseban Alun-Alun Situbondo, Jalan RA. Kartini, Kelurahan Dawuhan, Kecamatan/Kabupaten Situbondo. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 peserta, termasuk Komandan Kodim 0823/Situbondo Letkol Inf Ferry Ardian, S.Kom., M.Han., bersama Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, S.Sos., M.S.M., Wakil Bupati Ulfiyah, S.Pd.I., Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie, S.H., S.I.K., M.Sc., Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi, S.H.I., serta unsur Forkopimda, jajaran camat, kepala desa dan lurah, tokoh agama, FKUB, GM FKPPI, personel Kodim, perwakilan media, LSM dan tamu undangan lainnya, Kamis 13/8/2026.
Sebelum diskusi dimulai, suasana kegiatan diwarnai kepedulian sosial melalui pembagian bendera Merah Putih dan sembako berupa beras 5 kilogram secara simbolis kepada para abang becak. Bupati Situbondo menyampaikan harapan agar para abang becak senantiasa menjaga kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Memasuki sesi panel, Bupati menekankan bahwa seluruh agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Menurutnya, berbagai konflik yang terjadi di dunia menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk memahami arti perdamaian, persatuan dan keutuhan bangsa. Momentum kemerdekaan juga harus menjadi pengingat agar masyarakat terus menjaga NKRI dan bangga menjadi bagian dari bumi Nusantara.
Sementara itu, Kapolres Situbondo menegaskan bahwa perbedaan suku, agama maupun pendapat hendaknya menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan, bukan menjadi pemicu perpecahan. Kehidupan berbangsa dan bernegara harus berlandaskan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kamtibmas, termasuk menangkal penyebaran isu provokatif dan informasi menyesatkan di media sosial. Persoalan kenakalan remaja, balap liar hingga tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan usia produktif juga dinilai perlu mendapat perhatian bersama.
Kepala Kemenag Situbondo dalam tanggapannya mengajak seluruh masyarakat untuk menyadari bahwa manusia merupakan makhluk mulia yang harus mengedepankan nilai kemanusiaan, saling menghormati, berempati dan tolong-menolong tanpa membedakan suku maupun ras. Ia menyebut intoleransi, provokasi dan hoaks, fanatisme berlebihan serta perselisihan terkait tempat ibadah sebagai sejumlah pemicu persoalan kerukunan yang harus diantisipasi bersama. Melalui diskusi tersebut, seluruh elemen Situbondo diharapkan mampu memperkuat toleransi, membuka ruang komunikasi dan menyelesaikan setiap perbedaan melalui musyawarah. Semangat “Tak Atokaran” pun menjadi pesan penting agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan energi bersama dalam membangun Situbondo yang aman, rukun dan maju menuju Indonesia Emas.
0 Komentar